Nama: Agisna Nailinnikmah
Kelas: 1TA02
NPM: 10316302
Pengaruh Penting Kebudayaan Hindu,
Budha, Islam, dan Barat
di Indonesia
A.
Pengaruh Kebudayaan Hindu-Budha
Akulturasi budaya Hindu-Budha
India dengan budaya asli Nusantara secara damai melahirkan budaya baru yang
disebut budaya Hindu-Budha Nusantara. Menghadapi proses akulturasi tersebut,
menurut para ahli, bangsa Indonesia bersikap pasif maupun aktif. Pada awalnya
penduduk Indonesia bersikap pasif menerima ajaran-ajaran baru, di kemudian hari
aktif mencari ilmu hingga mengirim pelajarnya ke luar negeri dan mengundang
brahmana dari luar negeri untuk memberi pelajaran.
Proses akulturasi selama
berabad-abad menimbulkan sinkretisme antara kedua agama tersebut dan unsur
budaya asli hingga lahirlah agama baru yang dikenal sebagai Syiwa Buddha.
Sinkretisme adalah paham atau aliran baru yang merupakan perpaduan dari
beberapa paham untuk mencari keserasian dan keseimbangan. Aliran ini berkembang
pesat pada abad ke-13 M. Penganutnya, antara lain, Raja Kertanegara dan
Adityawarman.
Berikut
pengaruh kebudayaan Hindu-Budha di berbagai bidang
1.
Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha dalam bidang arsitektur bisa dilihat dari
bentuk candi nya. Dalam agama Hindu, candi difungsikan sebagai makam. Adapun
dalam agama Budha, sebagai tempat pemujaan.
2.
Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha dalam bidang seni sastra melalui cerita
Mahabharata dan Ramayana membawa pengaruh dalam masyarakat Indonesia dan
mempengaruhi perkembangan sosial budaya di Indonesia.
3.
Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha dalam bidang seni rupa adalah banyak ditemukan
patung-patung dewa di dalam candi Hindu atau Budha dan beberapa candi yang
memiliki relief yang melukiskan suatu cerita.
Contoh
hasil akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan Indonesia asli
sebagai berikut:
1.
Seni Bangunan
Bangunan
yang megah, patung-patung perwujudan dewa atau Budha, serta bagian-bagian candi
dan stupa adalah unsur-unsur dari India. Bentuk candi di Indonesia pada
hakikatnya adalah punden berundak yang merupakan unsur Indonesia asli. Candi
Borobudur merupakan contoh dari bentuk akultuasi tersebut.
2.
Seni Rupa dan Seni Ukir
Masuknya
pengaruh India juga membawa perkembangan dalam bidang seni rupa, seni pahat,
dan seni ukir, Hal ini dapat dilihat pada relief atau seni ukir yang dipahatkan
pada bagian dinding-dinding candi. Misalnya, relief yang dipahatkan pada
dinding-dinding pagar langkan di Candi Borobudur yang berupa pahatan riwayat
Sang Budha. Hiasan relief kala makara, dasarnya adalah motif binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Hal semacam ini sudah dikenal sejak masa sebelum Hindu.
3.
Sistem Pemerintahan
Salah
satu bukti akulturasi dalam bidang pemerintahan adalah dipilihnya seorang raja
karena raja dipandang memiliki kekuatan gaib seperti pada pemimpin masa sebelum
Hindu-Budha. Sebelum agama Hindu-Budha masuk, di Indonesia dikenal dengan
sistem pemerintahan yang dipimpin oleh kepala suku.
4.
Sistem Kepercayaan
Setelah
masuknya pengaruh India kepercayaan terhadap roh halus tidak punah. Misalnya
dapat dilihat pada fungsi candi. Fungsi candi atau kuil di India adalah sebagai
tempat pemujaan. Di Indonesia, disamping sebagai tempat pemujaan, candi juga
sebagai makam raja atau untuk menyimpan abu jenazah raja yang telah meninggal.
Bentuk bangunan lingga dan yoni juga merupakan tempat pemujaan terutama bagi
orang-orang Hindu penganut Syiwaisme.
B.
Pengaruh Kebudayaan Islam
Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai
pada abad ke-7 dan mengalami perkembangannya pada abad ke-13. Sebagai pemegang
peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).
Proses masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia pada dasarnya dilakukan
dengan melalui beberapa jalur/saluran yaitu melalui perdagangan seperti yang
dilakukan oleh pedagang Arab, Persia dan Gujarat. Pedagang tersebut
berinteraksi/bergaul dengan masyarakat Indonesia. Pada kesempatan itu dipergunakan
untuk menyebarkan ajaran Islam. Islam juga disebarkan melalui jalur perkawinan.
Banyak diantara nya yang menikah dengan orang Indonesia. Proses ini sangat membantu
penyebaran Islam sehingga proses agama Islam semakin cepat berkembang.
Pengaruh Islam dalam kebudayaan
nusantara telah berlangsung sejak beberapa abad yang lampau. Proses akulturasi antara
nilai-nilai keislaman yang masuk melalui jalur perdagangan dari Gujarat dengan
unsur-unsur budaya lokal menghasilkan karakter yang khas pada kebudayaan masyarakat muslim
di Indonesia. Kombinasi antara dua entitas budaya yang berbeda ini, di samping
juga unsur unsur kebudayaan Hindu-Buddha yang masuk sebelumnya dan kebudayaan barat
yang masuk pada era kolonial, menghasilkan keragaman budaya yang sangat kaya.
Seiring waktu, kekayaan budaya
ini mengalami pasang dan surut, sehingga berbagai upaya pelestarian dibutuhkan agar
tidak ditelan zaman. Hal inilah yang mendasari munculnya gagasan pendirian Museum
Istiqlal di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah. Museum yang berdiri
berdampingan dengan Museum Bayt Al-Qur'an ini sejak awal dicita-citakan untuk
merepresentasikan kekayaan karya seni budaya Indonesia bernapaskan Islam.
Keragaman suku membuat
peninggalan budaya Islam di setiap daerah di Indonesia masing-masing memiliki warna
tersendiri. Hal ini terlihat dari banyaknya koleksi benda peninggalan dari berbagai daerah yang
ditampilkan di museum ini. Benda-benda peninggalan yang terdiri dari karya
arsitektur, senjata, manuskrip, hiasan, busana, beraneka jenis kerajinan tangan, dan
karya seni kaligrafi diharapkan dapat membuka mata masyarakat awam akan kekayaan budaya
Islam yang dimiliki nusantara.
Di antara koleksi museum ini antara lain
arsip foto arsitektur masjid-masjid di berbagai pelosok tanah air. Di samping itu,
ditampilkan pula beraneka jenis pakaian tradisional yang mencerminkan pengaruh keislaman
yang kuat seperti busana tradisional Aceh, aneka tenun songket dari beberapa daerah
di Sumatera, dan aneka motif tekstil baik tradisional maupun kontemporer.
Terdapat pula beberapa naskah kuno berbahasa arab, berbagai guci tanah liat, dan replika
batu nisan yang menjadi bukti awal eksistensi keberadaan masyarakat Islam di
Indonesia.
Wujud Akulturasi Kebudayaan
Indonesia dan Kebudayaan Islam
1. Seni Bangunan
Masjid di Indonesia pada
zaman madya biasanya mempunyai cirri khas tersendiri, diantaranya :
- Atapnya berbentuk “atap
tumpang” yaitu atap bersusun. Jumlah atap tumpang itu selalu
ganjil, 3 atau 5 seperti di Jawa dan Bali pada masa Hindu.
- Tidak adanya menara. Pada
masa itu masjid yang mempunyai menara hanya masjid Banten dan masjid Kudus.
- Biasanya masjid dibuat
dekat istana, berada di sebelah utara atau selatan. Biasanya didirikan di tepi barat
alun-alun. Letak masjid ini melambangkan bersatunya rakyat dan raja sesama makhluk
Allah. Selain di alun-alun, masjid juga dibangun di tempat tempat keramat, yaitu
makam wali, raja atau ahli agama. Bentuk perkembangannya sesuai dengan
perkembangan zaman. Sekarang kebanyakan masjid atasnya berbentuk
kubah dan ada menara, ini merupakan pengaruh dari Timur tengah
dan Indonesia.
2. Seni Pemerintahan
Dalam pemerintahan, sebelum
Islam masuk Indonesia sudah berkembang pemerintahan yang bercorak Hindu
ataupun Budha. Tetapi setelah Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan yang
bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya dan digantikan peranannya oleh
kerajaan yang bercorak Islam dengan system pemerintahan raja sebagai
Sultan atau sunan. Apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan dicandi tetapi
dimakamkan secara Islam.
3. Seni Kalender
Sebelum budaya Islam masuk ke
Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal Kalender Saka (kalender
Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini ditemukan nama-nama pasaran
hari seperti legi, pahing, pon, wage dan kliwon. Setelah berkembangnya Islam
Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan
perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).
4. Tulisan
Tersebarnya agama Islam ke
Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat
mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau
biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan
bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda tanda a, i, u seperti
lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni
kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.
C.
Pengaruh Kebudayaan Barat
Masuknya budaya Barat ke
Indonesia disebabkan salah satunya karena adanya krisis globalisasi yang meracuni
Indonesia. Pengaruh tersebut berjalan sangat cepat dan menyangkut berbagai
bidang kehidupan. Tentu saja pengaruh tersebut akan menghasilkan dampak yang
sangat luas pada sistem kebudayaan masyarakat. Begitu cepatnya pengaruh budaya
asing tersebut menyebabkan terjadinya goncangan budaya (culture shock), yaitu
suatu keadaan dimana masyarakat tidak mamapu menahan berbagai pengaruh
kebudayaan yang dating dari luar sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam
kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Adanya penyerapan unsur budaya luar
yang di lakukan secara cepat dan tidak melalui suatu proses internalisasi yang mendalam
dapat menyebabkan terjadinya ketimpangan antara wujud yang di tampilkan dan
nilai-nilai yang menjadi landasannya atau yang biasa disebut ketimpangan
budaya.
Secara timbal balik, tiap peradaban akan
berpengaruh satu sama lain. Hukum sosial berlaku bagi semua peradaban.
Peradaban yang maju, pada suatu masa, cenderung memiliki perngaruh yang luas
bagi peradaban peradaban lain yang berkembang belakangan. Perkembangan
terknologi, terutama masuknya kebudayaan asing (barat) tanpa disadari telah menghancurkan
kebudayaan lokal. Minimnya pengetahuan menjadi pemicu alkulturasi kebudayaan
yang melahirkan jenis kebudayaan baru. Masuknya kebudayaan tersebut tanpa
disaring oleh masyarakat dan diterima secara mentah. Akibatnya kebudayaan asli
masyarakat mengalami degradasi yang sangat luar biasa.
Budaya asing yang masuk
keindonesia menyebabkan multi efek. Budaya Indonesia perlahan-lahan semakin
punah. Berbagai iklan yang mengantarkan kita untuk hidup gaul dalam konteks
modern dan tidak tradisional sehingga memunculkan banyaknya kepentingan para
individu yang mengharuskan berada diatas kepentingan orang lain. Akibatnya
terjadi sifat individualisme semakin berpeluang untuk menjadi budaya
kesehariannya. Ini semua sebenarnya terhantui akan praktik budaya yang sifatnya
hanya memuaskan kehidupan semata. Sebuah kebobrokan ketika bangsa Indonesia
telah pudar dalam bingkai kenafsuan belaka berprilaku yang sebenarnya tidak
mendapatkan manfaat sama sekali jika dipandang dari sudut keislaman. Artinya
dizaman sekarang ini manusia hidup dalam tingkat Hidonisme yang sangat tinggi
berpikir dalam jangka pendek hanya mencari kepuasaan belaka dimana kepuasaan
tersebut yang menyesatkan umat islam untuk berprilaku. Salah satu contoh
Serdehana sesuai dengan kenyataan, Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja
kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka
menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang
seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas-jelas tidak
sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat
beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan
cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya
bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Jika
pengaruh di atas dibiarkan, apa jadinya Moral generasi bangsa kita, timbul
tindakan anarkis antara golongan muda. dengan adanya budaya barat atau budaya
asing di Indonesia, dapat membawa dampak bagi Indonesia. Dampak masuknya budaya
asing antara lain. terjadi perubahan kebudayaan, pembauran kebudayaan, modernisasi,
keguncangan budaya, melemahnya nilai-nilai budaya bangsa. Dampak tersebut
membawa pengaruh besar bagi Indonesia, baik dari segi postif, maupun negatif.
Indonesia, masih terlalu lemah dalam menyaring budaya yang baik di ambil dengan
yang tidak, "maka kita semua sebagai warga Indonesia wajib membanggakan
apa saja yang sudah menjadi budaya kita sendiri", jangan sampai melupakan
budaya lama dengan sudah menemukan budaya baru.
Masuknya budaya asing ke suatu
negara sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai
dengan kepribadian bangsa namun kita harus tetap menjaga agar budaya kita tidak
luntur.
Langkah-langkah
untuk mengantisipasinya adalah antara lain dengan cara,
1. Menumbuhkan semangat
nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk
dalam negeri,
2. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik-
baiknya,
3. Melaksanakan ajaran Agama
dengan sebaik- baiknya dan Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang
politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.
Sebagai identitas bangsa, budaya
lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui
oleh negara lain. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan budaya asing
masuk asalkan sesuai dengan kepribadian negara karena suatu negara juga
membutuhkan input-input dari negara lain yang akan berpengaruh terhadap
perkembangan di negaranya.
DAFTAR
PUSTAKA & SUMBER
http://www.cpuik.com/2013/06/pengaruh-kebudayaan-hindu-buddha-di.html
http://www.gurusejarah.com/2015/01/akulturasi-kebudayaan-nusantara-dan.html
Hartini,
Dwi. 2007.Masuknya Pengaruh Islam di Indonesia. Pdf. Adobe Reader.
http://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/rangkuman-kebudayaan-islam-di-nusantara
http://www.kompasiana.com/febriyandi/dampak-masuknya-budaya-asing-barat-terhadap-budaya-bangsa-indonesia_55087e8b8133119e14b1e1af
Tidak ada komentar:
Posting Komentar