1.
Syarat-syarat
perencanaan jembatan
Pemilihan bentuk
jembatan sangat dipengaruhi oleh kondisi dari lokasi jembatan tersebut.
Pemilihan lokasi tergantung medan dari suatu daerah dan tentunya disesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat di daerah dengan kata lain bentuk dari
konstruksi jembatan harus layak dan ekonomis.
Perencanaan konstruksi jembatan
berkaitan dengan letaknya. Oleh beberapa ahli menentukan syarat-syarat untuk
acuan dari suatu perencanaan jembatan sebagai berikut :
- Letaknya dipilih sedemikian rupa
dari lebar pengaliran agar bentang bersih jembatan tidak terlalu panjang.
- Kondisi dan parameter tanah dari
lapisan tanah dasar hendaknya memungkinkan perencanaan struktur pondasi
lebih efesien.
- Penggerusan ( scow-ing ) pada
penampang sungai hendaknya dapat diantisipasi sebelumnya dengan baik agar
profil saluran di daerah jembatan dapat teratur dan panjang.
Dari syarat-syarat
tersebut diatas telah dijelaskan bahwa pemilihan penepatan jembatan merupakan
salah satu dari rangkaian system perencanaan konstruksi jembatan yang baik,
namun demikian aspek–aspek yang lain tetap menjadi bagian yang penting,
misalnya saja system perhitungan konstruksi; penggunaan struktur ataupun
mengenai system nonteknik seperti obyektifitas pelaksana dalam merealisasikan
jembatan tersebut.
2.
Peraturan-peraturan
dalam perencanaan jembatan
Dibawah ini bentuk
peraturan dalam perencanaan jembatan sebagai berikut:
a. PERATURAN
DAN STANDAR
· BMS 92 :
Bridge Management System, 1992
· BMS 93 :
Lampiran A dan Penjelasan Bag 1 sd. 9
· BMS 93 :
Panduan Pengawasan dan Pelaksanaan jembatan
· Guidelines for
the Installation, Inspection, Maintenance and Repair of Structural Supports for
Highway Signs, Luminaires and Traffic Signals, FHWA NHI 05-036, March 2005
·
Modifikasi Jembatan Bailey dengan Cara Perkuatan Cable
· Panduan
Pengawasan dan Pelaksanaan Jembatan
·
Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan - Persyaratan Tahan Gempa
·
Perencanaan Struktur Baja Untuk Jembatan
· RSNI
T-02-2005 : Standar Pembebanan Untuk Jembatan
· RSNI
T-03-2005 : Perencanaan Struktur Baja Untuk Jembatan
· RSNI
T-04-2005 : Perencanaan Struktur Beton Untuk Jembatan
·
Spesifikasi Bantalan Elastomer Tipe Polos dan Tipe Berlapis untuk Perletakan
Jembatan
·
Spesifikasi Pilar dan Kepala Jembatan Sederhana Bentang 5 m sampai 25 m dengan
Fondasi Tiang Pancang
· Standar
Jembatan Bina Marga
· Standar
Pembebanan Untuk Jembatan Jalan Raya
· Standar
Perencanaan Gempa Untuk Jembatan
.
VSL-Indonesia
b. SLAB ON
GRADE
· Pedoman
Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen
· Petunjuk
Pelaksanaan Perkerasan Kaku (Beton Semen)
· Pelaksanaan Perkerasan Jalan
Beton Semen
3. Bagian-bagian
dari konstruksi jembatan
Menurut Departement
Pekerjaan Umum (Pengantar Dan Prinsip-Prinsip Perencanaan Bangunan bawah/
Pondasi Jembatan, 1988) Suatu bangunan jembatan pada umumnya terdiri dari 6
bagian pokok, yaitu:
Keterangan:
1. Bangunan atas
2. Landasan (Biasanya
terletak pada pilar/abdument)
3. Bangunan Bawas
(memikul beban)
4. Pondasi
5. Optrit (terletak di
belakang abdument)
6. Bangunan pengaman
Menurut ( Siswanto,
1993 ) : Bentuk dan bagian jembatan dapat dibagi dalam 4 bagianutama,
yaitu :
1. Struktur Atas
2. Struktur Bawah
3. Jalan pendekat
4. Bangunan pengaman
1) Struktur Atas
(Superstructures)
a. Trotoar, berfungsi
sebagai tempat berjalan bagi para pejalan kaki yang melewati jembatan agar
tidak terganggu lalu lintas kendaraan. Konstruksi trotoar direncanakan sebagai
pelat beton yang diletakkan pada lantai jembatan bagian samping yang
diasumsikan sebagai pelat yang tertumpu sederhana pada pelat jalan.
b. Slab lantai
kendaraan, berfungsi sebagai penahan lapisan perkerasan yang menahan beban langsung
lalu lintas yang melewati jembatan itu.
c. Gelagar (Girder),
terdiri atas gelagar induk / memanjang dan gelagar melintang. Gelagar
induk atau memanjang
merupakan komponen jembatan yang letaknya melintang arah
jembatan atau tegak
lurus arah aliran sungai. Sedangkan, gelagar melintang merupakan
komponen jembatan yang
letaknya melintang arah jembatan.
d. Balok diafragma,
berfungsi mengakukan PCI girder dari pengaruh gaya melintang.
e. Ikatan pengaku (ikatan
angin, ikatan melintang),
f. Andas / perletakan,
merupakan perletakan dari jembatan yang berfungsi untuk menahan beban berat
baik yang vertikal maupun horisontal. Disamping itu juga untuk meredam getaran
sehingga abutment tidak mengalami kerusakan.
g. Tumpuan (Bearing), karet jembatan yang merupakan salah satu komponen utama dalam pembuatan jembatan, yang berfungsi sebagai alat peredam benturan antara jembatan dengan pondasi utama.
2) Struktur Bawah
(Substructures)
a. Pangkal jembatan
(Abutment), merupakan bangunan yang berfungsi untuk mendukung bangunan atas dan
juga sebagai dinding penahan tanah. Bentuk abutment dapat berupa abutment tipe
T terbalik yang dibuat dari beton bertulang.
b. Pilar jembatan
(Pier), terletak di tengah jembatan (di tengah sungai) yang memiliki kesamaan
fungsi dengan kepala jembatan yaitu mentransfer gaya jembatan rangka ke tanah.
Sesuai dengan standar yang ada, panjang bentang rangka baja, sehingga apabila
bentang sungai melebihi panjang maksimum jembatan tersebut maka dibutuhkan
pilar. Pilar terdiri dari bagian - bagian antara lain :
o Kepala pilar (
pierhead )
o Kolom pilar
o Pilecap
c. Drainase, fungsi
drainase adalah untuk membuat air hujan secepat mungkin dialirkan ke luar dari
jembatan sehingga tidak terjadi genangan air dalam waktu yang lama. Akibat terjadinya
genangan air maka akan mempercepat kerusakan struktur dari jembatan itu sendiri.
Saluran drainase ditempatkan pada tepi kanan kiri dari badan jembatan ( saluran
samping ), dan gorong - gorong.
4. Bentuk-bentuk
jembatan
Berikut ini
adalahn bagian bagian dalam jembatan yang biasanya terdapat dalam jembatan pada
umumnya:
1. Jembatan balok (beam
bridge)
Jembatan balok adalah jenis jembatan yang paling sederhana yang dapat
berupa balok dengan perletakan sederhana
(simple spens) maupun
dengan perletakan menerus(continous spens).
2. Jembatan kantilever
(cantilever bridges)
Jembatan kantilever adalah merupakan pengembangan jembatan
balok. Tipe jembatankantilever ini ada dua macam yaitu tipe cantilever dan tipe
cantilever with suspendedspans.
3. Jembatan lengkung
(arch bridge)
Jembatan lengkung adalah suatu tipe jembatan yang menggunakan
prinsip kestabilandimana gaya-gaya
yang bekerja di atas
jembatan di transformasikan ke bagian
akhirlengkung atau abutment.
4. Jembatan rangka
(truss bridge)
Jembatan rangka dibuat dari struktur rangka yang biasanya
terbuat dari bahan baja dandibuat dengan menyambung beberapa batang dengan las
atau baut yang membentuk pola-pola segitiga. Jembatan rangka biasanya digunakan
untuk bentang 20 m sampai 375m.
5. Jembatan kabel
(cable stayed bridge)
Jembatan kabel merupakan suatu pengembangan dari jembatan
gantung dimana terdapatjuga dua pilar atau tower.
6. Jembatan gantung
(suspension bridge)
Jembatan gantung terdiri dari dua kabel besar atau kabel
utama yang menggantung daridua pilar atau tiang utama dimana ujung-ujung kabel
tersebut diangkurkan pada fondasiyang biasanya terbuat dari beton.
5.
Beban-beban yang
bekerja dalam perencanaan struktur jembatan
Dalam
perencanaan struktur jemabatan secara umum, khususnya jembatan komposit, hal
yang perlu sekali diperhatikan adalah masalah pembebanan yang akan bekerja pada
struktur jembatan yang dibuat. Menurut pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan
Jalan Raya (PPPJJR No 378/1987) dan PMJJR No 12/1970 membagi pembebanan jembatan
dalam dua kelas.
Ada beberapa
macam pembebanan yang bekerja pada struktur jembatan, yaitu:
1. Beban Primer
Beban
primer merupakan beban utama dalam perhitungan tegangan pada setiap perencanaan
jembatan, yang terdiri dari: beban mati, beban hidup, beban kejut dan gaya
akibat tekanan tanah.
a.
Beban mati
Beban mati adalah beban yang berasal
dari berat jembatan itu sendiri yang ditinjau dan termaksud segala unsur
tambahan tetap yang merupakan satu kesatuan dengan jembatan. Untuk menemukan
besar seluruhnya ditentukan berdasarkan berat volume beban.
b.
Beban hidup
Beban hidup adalah
semua beban yang berasal dari berat kendaraan-kendaraan yang bergerak dan
pejalan kaki yang dianggap bekerja pada jembatan. Penggunaan beban hidup di
atas jembatan yang harus ditinjau dalam dua macam beban yaitu beban “T” yang merupakan
beban terpusat untuk lantai kendaraan dan beban “D” yang merupakan beban jalur
untuk gelagar.
2. Beban
Sekunder
Beban
sekunder adalah beban yang merupakan beban sementara yang selalu diperhitungkan
dalam penghitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan.
a.
Beban Angin
Dalam perencanaan
jembatan rangka batang, beban angin lateral diasumsikan terjadi pada dua bidang
yaitu:
· Beban angin pada rangka utama.
Beban angin ini dipikul
oleh ikatan angin atas dan ikatan angin bawah.
· Beban angin pada bidang kendaraan
Beban angin ini dipikul
oleh ikatan angin bawah saja. Dalam perencanaan untuk jembatan terbuka, beban
angin yang terjadi dipikul semua oleh
ikatan angin bawah.
b.
Gaya Akibat Perbedaan Suhu
Perbedaan suhu harus
ditetapkan sesuai dengan keadaan setempat yaitu dengan perbedaan suhu.
· Bangunan Baja
1) Perbedaan suhu maksimum-minimum= 300C
2) Perbedaan suhu antara bagian-bagian
jembatan= 150C
· Bangunan Beton
1) Perbedaan suhu maksimum-minimum= 150C
2) Perbedaan suhu antara bagian-bagian
jembatan=100C
Dan juga tergantung
pada koefisien muai panjang bahan yang dipakai misalnya:
· Baja ε =12x10-6/0C
· Beton ε =10x10-6/0C
· Kayu ε =5x10-6/0C
c.
Gaya Rangkak dan Susut
Diambil senilai dengan gaya akibat
turunnya suhu sebesar 150C
d.
Gaya Rem dan Traksi
Pengaruh ini diperhitungkan dengan gaya
rem sebesar 5% dari beban “D” tanpa koefisien kejut. Gaya re mini bekerja
horizontal dalam arah jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,80 m dari
permukaan lantai jembatan.
e.
Gaya Akibat Gempa Bumi
Bekerja kea rah
horizontal pada titik berat kontruksi.
KS = E x G
……………………………………………[1-5]
Dimana:
KS = koenfisien gaya horizontal (%)
G = beban mati (berat sendiri) dari
kontruksi yang ditinjau.
E = koefisien gempa bumi ditentukan
berdasarkan peta zona gempa dan
biasanya diambil 100% dari berat
kontruksi.
f.
Gaya Gesekan Pada Tumpuan Bergerak
Ditinjau hanya beban mati (ton).
Koefisien gesek karet dengan baja atau beton= 0,10 sampai dengan 0,15.
Nama: Agisna Nailinnikmah
NPM: 10316302
Kelas: 3TA06
Dosen: I Kadek Bagus Widana Putra
link 1: https://ftsp.gunadarma.ac.id/sipil/
link 2: https://www.gunadarma.ac.id/














